Tampilkan postingan dengan label Sejarah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sejarah. Tampilkan semua postingan

Kamis, 23 Februari 2012

Sabtu, 22 Oktober 2011

(GoVlog-Umum) Masuk Gua yang Penuh Tengkorak di Toraja


Patung kayu Toraja
Budaya orang Toraja nampaknya begitu lekat dengan hal-hal yang berkaitan dengan kematian. Selain upacara kematian Rambu Solo yang terkenal itu, orang Toraja juga memiliki tradisi â€Å“penguburan” mayat yang tidak biasa. Kata â€Å“penguburan” di sini harus diberi tanda kutip karena mayat orang Toraja sebenarnya tidak benar-benar dikubur.
Macam-macam teknik yang dilakukan orang Toraja untuk â€Å“menguburkan” mayat. Ada yang yang dimasukkan dalam liang batu, disemayamkan dalam gua, disimpan dalam rumah-rumahan, bahkan juga dibenamkan dalam batang pohon besar. Meskipun ada bermacam-macam teknik â€Å“penguburan” yang digunakan, mayat mereka tidak pernah benar-benar berbaur dengan tanah.

Menurut kepercayaan orang Toraja, sisa-sisa tubuh manusia tidak boleh bercampur dengan tanah. Lahan pertanian harus dijaga kemurniannya dari sisa-sisa tubuh manusia supaya terjaga kesuburannya. Meskipun sekarang sebagian besar orang Toraja sudah memeluk agama Kristen, kepercayaan ini masih terus dijaga. Tak pelak lagi, kegiatan jalan-jalan melihat â€Å“kuburan” adalah salah satu aktivitas yang paling menarik di Toraja.
Saya bersama Jan, seorang kawan yang berasal dari Belanda, berkesempatan melihat â€Å“kuburan” orang Toraja yang tidak biasa itu. Kami juga ditemani Christ, seorang pemandu wisata yang asli anak Toraja. Bukannya mau berlagak jadi turis atau sok bawa-bawa pemandu segala. Kami merasa keberadaan seorang pemandu benar-benar dibutuhkan. Saya dan Jan boleh dikata buta soal budaya Toraja. Tanpa seorang pemandu, kami benar-benar tak tahu apa yang harus dilakukan.
Jadilah, kegiatan kami hari itu diisi dengan tur melihat â€Å“kuburan”. Sebagai kegiatan pembuka, kami diajak ke kuburan pohon yang menurut Christ tidak terlalu seram. Nah lho, berarti â€Å“kuburan” berikutnya bakal sangat seram? Pembukaannya dipilih yang tidak terlalu seram, lalu diakhiri dengan yang paling seram! Waduh, belum-belum saya sudah merinding duluan!
Saya sangat penasaran, seperti apa bentuk kuburan pohon tersebut. Ternyata, kuburan pohon itu hanya sebuah pohon besar yang batangnya dilubangi. Mayat yang dimasukkan dalam lubang tersebut ditutupi dengan ranting pohon dan semacam jerami. Pelan-pelan, lubang akan menutup sendiri dan mayat bisa menyatu sepenuhnya ke batang pohon. Lubang di pohon tersebut sangat kecil, jadi hanya bisa memuat mayat bayi.
Kuburan pohon
Menurut kepercayaan orang Toraja, semua bayi yang meninggal harus â€Å“dikubur” di dalam batang pohon. Batang pohon yang dipilih sebagai â€Å“kuburan” adalah jenis tanaman yang menghasilkan banyak getah. Nah, getah pohon ini fungsinya untuk â€Å“menyusui” bayi-bayi yang â€Å“dikubur” dalam batang pohon tersebut. Oh, ternyata begitu alasannya.
Christ kemudian membawa kami ke jenis â€Å“kuburan” lainnya. Kali ini kami dibawa ke muka sebuah tebing batu yang sangat tinggi. Bebatuan di tebing itu dipahat sedemikian rupa untuk menaruh patung-patung kayu. Patung-patung itu katanya dibuat mirip dengan orang-orang yang â€Å“dikuburkan” di tebing tersebut. Di bagian yang lebih tinggi, dibuat liang untuk memasukkan mayat.
Letak liang-liang itu sangat tinggi, ini dimaksudkan supaya barang-barang berharga yang ditanam bersama mayat tidak mudah dicuri. Bisa dibayangkan betapa sulitnya pekerja yang harus memahat dinding tebing untuk dijadikan â€Å“kuburan”. Namun, tradisi bekal kubur sudah tidak dilakukan lagi. Karena itu, liang-liang kubur yang dibuat belakangan letaknya lebih rendah.
Acara melihat â€Å“kuburan” ternyata belum selesai. Kegiatan yang paling menantang justru baru dimulai. Christ kemudian membawa kami ke sebuah gua yang berisi ribuan mayat. Terbayang kan betapa seramnya!
Begitu tahu gua tersebut dipenuhi mayat, Jan langsung menolak ikut. Orang bule ternyata lebih penakut, ha ha... Meskipun awalnya agak ngeri, saya memberanikan diri memasuki gua.
Rupanya ada kesepakatan bahwa pengunjung hanya boleh masuk gua didampingi pemandu yang biasa mangkal di depan gua tersebut. Jadi, pemandu kami Christ tidak boleh ikut masuk. Supaya bisa bagi-bagi rezeki, mungkin begitu maksudnya. Karena Jan juga menolak ikut, akhirnya saya masuk gua yang penuh mayat itu hanya ditemani seorang pemandu.
Mungkin karena sudah terlalu banyak mayat yang disimpan di dalam gua, sebagian peti mati ditumpuk begitu saja di depan mulut gua. Tentu saja pemandangan itu bikin bulu kuduk saya berdiri. Saya tidak melihat deretan peti mati kosong, tapi benar-benar diisi mayat!
Selain dipenuhi peti mati, mulut gua itu juga dihiasi dengan patung-patung kayu seperti yang sebelumnya saya lihat di kuburan tebing. Sebagian patung nampak sangat hidup, seperti patung lilin di Museum Madame Tussaud. Tapi, memandang patung-patung tersebut membuat saya tambah merinding.
Berbekal lampu petromaks sebagai penerang, saya dan pemandu melangkah masuk ke dalam gua. Untungnya ada cukup banyak pengunjung yang sudah berada di dalam gua, jadi suasananya tidak terlalu sepi. Saya juga tidak mencium bau mayat. Aroma yang tercium adalah bau tanah dengan udara yang terasa sangat lembab dan pengap.
Karena lantai gua terasa agak licin dan becek, saya mencoba berpegangan pada dinding gua supaya tidak terpeleset. Tapi alangkah kagetnya saya kemudian. Saya hampir saja menyentuh tengkorak dan tulang-belulang manusia yang disisipkan pada celah-celah di dinding gua! Pemandu malah tertawa melihat saya yang kaget. Ia malah bilang tidak apa-apa menyentuh tengkorak. Asal tidak dibawa ke luar gua, tidak ada pantangannya menyentuh kerangka manusia. Tapi untuk apa sih saya memegang-megang tengkorak orang?
Setelah peti mati lapuk karena termakan usia, kerangka manusia yang ada di dalamnya disusun dalam celah-celah batu pada dinding gua. Jadi jangan heran kalau kita bisa melihat deretan tengkorak dan tulang-belulang yang disusun dengan rapi. Warga lokal juga sering menaruh sesaji di depan tengkorak-tengkorak tersebut. Ada yang menaruh botol air minum kemasan, koin, serta rokok. Entah apa maksudnya, ada pula yang menaruh sebatang rokok di bagian mulut tengkorak! Memangnya orang mati bisa merokok?
Uniknya lagi, kuburan gua ini juga memiliki legenda menarik. Konon, ada sepasang muda-mudi yang bunuh diri di dalam gua karena hubungan mereka tidak direstui orang tuanya. Tengkorak mereka masih bisa disaksikan sampai sekarang. Ini adalah kisah Romeo dan Juliet versi Toraja!
Gua itu sebenarnya cukup dalam, tapi saya menolak masuk ke bagian yang lebih jauh. Rasanya tidak nyaman terlalu lama berada di dalam gua yang penuh sisa-sisa tubuh manusia. Setelah keluar dari gua, Jan dan Christ menyambut saya dengan senyuman lebar. Mereka bilang wajah saya pucat!

Dalam perjalanan pulang ke akomodasi, Christ mendapat telepon dari temannya yang memberi tahu alamat orang yang menyimpan mayat di dalam rumahnya. Bagi yang belum mengerti tradisi Toraja, mungkin akan langsung bergidik mendengarnya. Perlu diketahui, sebelum upacara penguburan Rambu Solo digelar, mayat biasanya disimpan di dalam rumah sampai beberapa tahun! Biaya upacara Rambu Solo sangat mahal, jadi keluarga perlu mengumpulkan uang dulu.
Christ menawarkan kami untuk mengunjungi sebuah keluarga yang menyimpan dua buah mayat sekaligus di dalam rumahnya. Tapi saya dan Jan langsung berkata â€Å“tidaaaak!!!!”. Rasanya sudah terlalu banyak "kuburan" dan tengkorak yang kami lihat pada hari itu.
sumber : yahoo.com

Sabtu, 24 September 2011

Menjelajahi Tembok Panjang Vietnam



Saat berada di di Hanoi untuk penelitian pada November 2010, saya mengunjungi Dr Andrew Hardy, kepala  École française d'Extreme-Orient (Sekolah Perancis untuk Studi Asia: EFEO) cabang Hanoi.

EFEO adalah organisasi arkeologi terkenal yang sama yang berperan dalam menggali dan melestarikan reruntuhan kuno Champa (Vietnam) dan Angkor (Kamboja).

Saat mengobrol sambil minum teh di kantornya, dikelilingi perpustakaan yang lengkap koleksi naskah ilmiahnya, saya merasa seperti berada di adegan pembukaan film Indiana Jones, di Marshall College dan sedang disiapkan untuk petualangan berikutnya.

Dr Hardy menjelaskan bahwa selama lima tahun terakhir, ia dan tim arkeolog telah menemukan sebuah benteng yang panjangnya 127,4 kilometer, dimulai di Provinsi Quang Ngai (Vietnam Tengah) dan berliku melewati pegunungan, hutan dan lahan pertanian, sampai ke selatan di provinsi Binh Dinh.

Dibangun pada 1819, Tembok Panjang Quang Ngai adalah monumen terpanjang di Asia Tenggara dan penemuan arkeologi yang paling penting di Vietnam dari abad lalu.

Saya sudah berencana menuju ke selatan untuk beberapa hari. Saya pun tidak bisa menolak kesempatan untuk mencoba menemukan sendiri dinding tersebut.


Sebuah desa tradisional Hrê dengan sawah terasering.

Roh dan swastika: Perjalanan ke wilayah Hrê


Saat kereta saya mendekati kota pelabuhan kuno Hoi An, saya mendapati banjir musim hujan terburuk yang pernah saya alami. Kereta meluncur melintasi 'lautan' coklat.

Teratai dan swastika menghiasi ujung-ujung makam yang terendam, muncul dari gelombang.

Seorang teman saya yang bernama Bich menjemput di stasiun di Quang Ngai City. Saat itu, tidak ada peta maupun tanda-tanda Tembok Panjang, dan sebagian besar reruntuhan tembok tidak dapat diakses melalui jalan darat, jadi dia akan membantu saya.

Kami berkendara melewati bukit-bukit berhutan dan desa-desa kecil, melewati rumah panjang pangung suku Hrê. Atap jerami menggantung di dinding berteralis dan alas tikar anyaman rumput.

Persembahan buat roh-roh berupa buah-buahan terlihat di pinggir jalan, diletakkan di atas pucuk-pucuk bambu dan dihiasi rerumputan.

Dr. Hardy telah mengatakan kepada saya bahwa etnis minoritas Hrê mungkin telah membangun Tembok Panjang bekerjasama dengan penduduk Vietnam, memisahkan kedua komunitas tersebut untuk tujuan keamanan bersama dan regulasi perdagangan.


To Ngoc Hoang Bich berdiri di samping reruntuhan benteng batu yang pernah melindungi Tembok Panjang. Seperti mahasiswa lokal lainnya, ia bisa mendapatkan keuntungan dari pekerjaan yang muncul dari wisata Tembok Panjang.

Pos penjagaan di 'Deo Chim Hut'


Hujan deras membuat perjalanan jadi sulit. Banjir menghancurkan jembatan yang harus kami lalui sehingga kami mengambil jalan memutar yang panjang di atas pegunungan Deo Chim Hut.

Saat saya menyetir, kami mendengar batu-batu berjatuhan dan pohon patah di lereng di atas kami. Tanah longsor terlihat di depan, sehingga kami harus berbelok-belok menghindarinya. Bich gugup dan menyarankan kami kembali dan menanyakan arah sebelum melanjutkan, yang ternyata malah kebetulan.

Seorang petani menunjukkan kepada kami bahwa tembok yang kami cari terletak tepat di belakang jalan yang kami lalui, tersembunyi oleh dedaunan. Beberapa pecahan tembikar kuno berserakan di tanah. Keramik adalah satu dari banyak jenis barang yang diperdagangkan di sepanjang dinding.

Saya berdiri di pojokan sebuah benteng hancur di dekat tembok. Tentara semut hitam hilir-mudik menggigiti pohon berduri di samping saya.

Mata saya mengikuti dinding batu setinggi dua meter sampai ke lembah. Saya bertanya-tanya bagaimana rasanya menjadi seorang prajurit menjaga pos ini, hampir dua abad yang lalu, di tepi hutan yang dihuni oleh gajah dan harimau pemakan manusia.

Fosil Bulu Dinosaurus Ditemukan di Kanada

.Fosil bulu dinosaurus yang ditemukan dalam sampel batu amber.

 Sampel batu amber di bagian barat Kanada yang berisi bulu dinosaurus dan burung telah menghasilkan kisah paling lengkap tentang evolusi bulu yang pernah ada. Sebelas fragmen menunjukkan perkembangan dari "filamen" serupa rambut menjadi bulu bercabang ganda seperti ditemukan pada burung modern.
Analisis terhadap endapan amber berusia 80 juta tahun itu disajikan dalam situs Science. Penemuan tersebut, bersama sebuah artikel penyertanya yang menganalisis pigmen bulu, menambah gagasan bahwa dinosaurus memamerkan bulu-bulu mereka. Sebagian bulunya berwarna cerah.
Beberapa tahun terakhir terlihat perkembangan laporan yang begitu pesat tentang awal mula bulu seperti yang kita temukan pada burung saat ini. Fosil-fosil serupa (yang tercetak dalam endapan batu dan sejenisnya) yang ditemukan di Cina menguraikan bulu "filamen" primitif yang lebih mirip rambut.
Tapi, bulu modern sangat bercabang dan terstruktur. Cerita sepenuhnya tentang bagaimana perubahan tersebut belum berhasil diungkap oleh catatan fosil tersebut.
Kini, sebuah penelitian terhadap batu amber yang ditemukan di dekat Danau Grassy di Alberta – berasal dari apa yang dikenal sebagai periode Kapur Akhir – telah menggali berbagai struktur bulu yang menunjukkan perkembangan tersebut.
"Kami menemukan dua ujung dari perkembangan evolusi yang telah diajukan, untuk bulu-bulu yang terjebak dalam endapan ambar yang sama," kata Ryan McKellar dari University of Alberta, penulis utama laporan tersebut.
Penemuan tim menegaskan bahwa filamen tunggal berkembang menjadi sekumpulan filamen-filamen lain dari asal yang sama, yang disebut barbs.Dalam perkembangan selanjutnya, beberapa barbs dapat bergabung menjadi cabang pusat yang disebut rachis. Saat struktur tersebut berkembang lebih lanjut, cabang-cabang baru filamen terbentuk dari rachis.

"Kita punya bulu yang terlihat menyerupai rambut yang sedikit berserabut, kita punya filamen yang sama terikat dalam rumpun-rumpun, dan kemudian kita punya serangkaian (hal) yang untuk semua maksud dan tujuan identik dengan bulu modern," kata Kellar kepada BBC News.
sumber : Yahoo.com

Minggu, 11 September 2011

Menengok Masjid Tertua Bercorak Tionghoa


 Masjid Jami Kalipasir, Tangerang, berada di tengah pemukiman penduduk keturunan Tionghoa. Memiliki bangunan bercorak etnis China, masjid ini disebut sebagai yang tertua di wilayah Tangerang, Banten. Letak masjid sendiri berada di sebelah timur bantaran kali Cisadane. Persis di tengah pemukiman warga RT: 02/04, Kelurahan Sukasari.

Masjid yang memiliki luas sekitar 16x18 meter persegi itu dibangun pada tahun 1700 M oleh Tumenggung Pamit Wijaya dari Kahuripan Cirebon. Dikisahkan, kedatangan Tumenggung Pamit Wijaya dalam rangka syiar Islam dari Kesultanan Cirebon ke wilayah Banten.

Namun dalam perjalanannya, Tumenggung Pamit, singgah di Tangerang dan mendirikan sebuah masjid. Uniknya, masjid dibangun bersebelahan dengan Klenteng Boen Tek Bio yang saat itu sudah berdiri tegak. Klenteng itu berjarak sekitar 100 meter dari masjid. Walau begitu, kerukunan antara umat tetap terjaga sampai sekarang.

"Cerita yang sampai pada kami, masjid Kalipasir dibangun oleh Tumenggung Pamit Wijaya dari Kahuripan Cirebon," kata H. A. Sjairodji, ketua DKM Masjid Jami Kalipasir saat ditemui VIVAnews.com. Menurut Sjairodji, mengenai sosok Tumenggung Pamit Wijaya beserta masjidnya belum tergali secara dalam.

Saat ini, kondisi masjid sudah mengalami banyak perubahan. Hanya dua sisi arsitektur yang masih tetap utuh dipertahankan. Yakni empat tiang di dalam masjid dan kubah kecil bermotif China diatas masjid. Tiang tersebut terbuat dari kayu dan tampak mulai keropos, sehingga harus disanggah dengan sejumlah besi. Sisi lain yang memperkuat nuansa China adalah dominasi warna kuning dan hijau dalam bangunan masjid itu.

Dia mengungkapkan, selanjutnya masjid diurus oleh putra Tumenggung Pamit Wijaya, yakni Raden Uning Wiradilagi Kuripan Bogor, pada tahun 1712. Setelah itu, pada 1740 cucu Tumenggung Pamit Wijaya, Tumenggung Aria Ramdon menjadi Aria Gerendeng II yang menggantikan Maulana Syarif.

Pada perkembangannya, kepengurusan masjid dilanjutkan oleh putra Tumenggung Aria Ramdon, yakni Tumanggung Aria Sutadilaga tahun 1780. "Menurut catatan yang ada, pengangkatan Tumanggung dilakukan dengan cara biscuit VOC pada 16 Februari 1802-1823. Cara pengangkatan tersebut mirip dengan pemberian SK pada jaman sekarang ini," terang Sjairodji.

Kemudian berlanjut pada 1830 diurus oleh Raden Aria Idar Dilaga. Raden Aria ini yang terakhir diangkat dengan cara biscuit gouverneur general atau komisaris general di Bogor tanggal 14 februari 1827. "Kami sendiri belum bisa memahami adanya keterangan pengangkatan dengan cara tersebut," ujarnya.

Namun pada tahun 1865, kepengurusan masjid dilakukan seperti biasa, oleh putri Idar Dilaga, yakni Nyi Raden Djamrut dan suaminya Raden Abdullah sampai tahun 1904. Setelah masa itu, putra Nyi Djamrut, yakni Raden Jasin Judanegara membangun menara dan melakukan rehabilitasi. Kemudian pada 1918, bagian dalam masjid juga dilakukan perbaikan, bukan hanya oleh Jasin Judanegara, tetapi juga oleh H. Muhibi dan H. Abdul Kadir Banjar.

"Pada 24 April 1959 sampai Agustus 1961, menara lama diperbaiki dan dirombak selesai pada 1961 hingga sampai sekarang," terang Sjairodji yang juga masih keturunan H. Abdul Kadir Banjar.

Sejarah yang tidak bisa dilupakan pula adalah kehaditran Hj. Murtapiah yang mengasuh pesantren perempuan bukan hanya di Tangerang, tetapi juga Banten dan Jawa Barat. Sampai sekarang, beliau ditokohkan di kawasan tersebut.

Apa saja kegiatan yang dilakukan di Masjid Jami Kalipasir? Sjairodji mengungkapkan sama seperti masjid lainnya, sebagai tempat ibadah dan pengajian. Termasuk juga pada bulan puasa ini. Hanya saja, pada peringatan Maulid Nabi, warga sekitar membuat perahu besar di kali Cisadane. “Pesan yang ingin disampaikan adalah mengingat dakwah Islam yang dulu pernah dilakukan melalui pesisir pantai oleh para mebaligh,” ujarnya.
sumber:VIVAnews

Kolektor Tattoo Mayat

Kolektor Tattoo Mayat
​Banyak orang memiliki hobi mengkoleksi perangko, sebagian lainnya gemar mengumpulkan mobil dan motor antik, ada juga yang mencari dan menyimpan medali, uang kuno, kristal, guci, piring antik, patung dan lukisan. Namun terbayangkah Anda bahwa ada saja orang yang gemar mengkoleksi sesuatu yang amat sangat tidak biasa, yaitu Kolektor Tattoo Mayat.
Dr Katsunari Fukushi adalah salah seorang pendiri Japan Tattoo Institute yang bergerak dibidang pelestarian seni tradisional tattoo Jepang atau popolernya "tebori". Sebanyak 100-an lebih tattoo tradisional yang memenuhi kanvas hidup kulit manusia yang sudah mati, disamak dan dikoleksinya. Hal ini tentunya dilakukan dengan mengantongi ijin legal sebelumnya, segalanya ia lakukan demi pelestarian budaya dan ilmu pengetahuan.
Tebori yang artinya mengukir dengan tangan. Jaman dahulu kala masyarakat Jepang mentatto tubuh mereka dengan menggunakan sebuah batang bambu berisi jarum di ujungnya yang digunakan untuk menempatkan arang dan menggunakannya sebabai tinta tatto.
sumber:Yahoo

Sabtu, 13 Agustus 2011

Masjid Tan Kok Liong dan Kuburan Anton Medan




 Masjid Tan Kok Liong terletak di Cibinong, Bogor, Jawa Barat. Arsitektur masjid itu lebih mirip kelenteng, tempat ibadah umat Konghucu.

Masjid ini dibangun mantan napi, Anton Medan di kompleks Yayasan At-Taibin yang memiliki luas sekitar satu hektare. Warna merah dan hijau cerah khas China mendominasi masjid yang berukuran 16 X 20 meter ini.

"Masjid ini kami bangun awal 2005 silam dengan menghabiskan dana sekitar Rp2 miliar," kata Anton saat berbincang dengan VIVAnews.com.
"Saya sendiri yang merancang masjid ini. Untuk membangunnya, saya habiskan waktu 4 bulan 17 hari."
Hanya satu hal yang menunjukkan bangunan itu seperti masjid. Di bagian depan terdapat kubah kecil yang dicat dengan warna emas. "Ini perpaduan China dengan Timur Tengah."

Di atas kubah terpampang papan nama masjid, Tan Kok Liong dengan tulisan China dan huruf abjad. Nama Tan Kok Liong sendiri diambil dari nama kecil Anton Medan.

Papan nama berukuran 1,5 X 1 meter ini memiliki warna dasar hitam, sedangkan tulisan yang timbul berwarna keemasan. "Itu menandakan latar belakang saya yang hitam. Kemudian saya sudah hijrah menjadi muslim, masa keemasan," kata dia.

MASJID JAMI TAN KOK LIONG
Menurut Anton, sebelum membangun masjid, dirinya melakukan survei terhadap bangunan-bangunan kuno China. Dia membandingkan bentuk bangunan pada masa Dinasti Qing, Ming, dan Han. "Saya akhirnya memilih tipe istana Dinasti Qing, yang mendekati kemiripan dengan desain masjid di Indonesia," kata dia.

Masjid ini memiliki empat ruangan bertingkat. Ruangan dasar digunakan untuk kantor atau kesekretariatan. Lantai dua difungsikan sebagai tempat beribadah. "Ruangan tingkat tiga dan empat dikosongkan, karena milik raja seperti itu," kata Anton.

Di atap masjid terdapat berbagai ornamen khas. Di setiap ujung pertemuan atap terdapat ornamen kepala naga. Di atasnya terdapat patung burung rajawali dan lima ekor burung perkutut. Ornamen-ornamen itu memiliki arti tersendiri.

"Umat Islam harus setajam mata rajawali, lihat kondisi sosial, keadaan masyarakat sekitarnya," kata dia.

"Umat Islam boleh menunduk seperti perkutut, tapi harus memandang lurus ke depan. Dan naga sebagai lambang keberuntungan."

Menurut Anton, patung-patung itu dibangun bukan untuk tujuan bid'ah. "Itu hanya ciri khas China saja. Bukan bid'ah, karena hati kita hanya menyembah Tuhan," kata dia.

Di samping masjid, tepatnya di sebelah selatan terdapat bangunan berukuran sekitar 4 X 4 meter. Atap bangunan itu dibangun tiga tingkat bercat hijau tua.

Lantai bangunan ini terbuat dari keramik. Di tengah-tengahnya terdapat sebuah cungkup atau pusara. "Itu buat makam saya. Sebelum bangun masjid, saya bangun itu dulu pada tahun 2003," kata Anton.
MASJID JAMI TAN KOK LIONG
"Kita kan nggak tahu kapan datangnya kematian. Mending kalau malaikat calling duluan sebelum mencabut nyawa. Kalau tidak ya lewat kan."

"Saya melihat orang muda meninggal. Banyak lah. Seperti Zainuddin, beberapa hari sebelumnya baru ceramah bareng tiba-tiba meninggal. Siapa yang tahu. Saya juga tidak tahu kapan kuburan itu bisa saya gunakan," tambah dia.

Di sekeliling masjid Tan Kok Liong ini juga berdiri kokoh bangunan yayasan At-Taibin. Ada 14 ruang kelas dan 60 ruang untuk para santri.

Bangunan-bangunan ini menggambarkan masa lalu Anton Medan selama dipenjara. Bagian pintu gerbang dibuat menyerupai pintu Lembaga Pemasyarakatar atau LP.
Di gerbang masuk ada sebuah gerbang dengan dua buah daun pintu. Terbuat dari plat baja, tinggi, dan ada lubang segi empat di bagian pegangan pintu.

Jalan menuju kamar para santri pun dibuat seperti lorong-lorong penjara. Sementara itu, ruang makan yang dipersiapkan untuk para santri dibuat dalam sebuah ruangan menyerupai aula. "Semua itu saya bangun dari hasil usaha saya,"
Sumber:VIVAnews.com

Kamis, 11 Agustus 2011

Pernah Menjadi Museum Yang Terkenal di Dunia

TAHUKAH Anda bahwa tanggal 18 Mei adalah Hari Museum Sedunia? Pernahkah Anda mengunjungi satu saja museum di Indonesia? Jika kita mau sedikit saja meluangkan waktu untuk berjalan-jalan ke museum, akan banyak pelajaran dan pengetahuan yang kita peroleh.
Lebih dari seratus tahun yang lalu seorang prajurit Belanda sudah membuktikan hal itu! Baginya, dengan mengunjungi museum yang terdapat di suatu negara dia dapat mengetahui kebudayaan dan peradaban masyarakat negara tersebut. Maka ketika dia menjejakkan kakinya di Batavia pada 1892, salah satu tempat yang langsung dikunjunginya adalah Museum Gajah!
Pengalaman dan kesan pertamanya pada Museum Gajah begitu mendalam hingga dituliskan dalam buku hariannya, dan diceritakan kembali oleh HCC Clockener Brousson dalam buku yang berjudul Batavia Awal Abad 20. Inilah kisahnya:

Saat berjalan-jalan di sekitar Koningsplein kami melewati sisi barat lapangan luas itu, dan melihat bangunan indah dengan gajah perunggu yang berdiri di atas sebuah batu di depannya. Bangunan itu bergaya Yunani kuno, dan menurut Abdullah, pribumi yang menjadi penunjuk jalan kami, oleh orang pribumi bangunan itu dikenal dengan nama Gedung Gajah (Het Olifantenhuis).

Gedung itu merupakan museum yang terkenal di dunia, dan perpustakaan dari perkumpulan terkenal, Bataviasche Genootschap van Kunsten en Wetenschap-pen (perkumpulan untuk seni dan ilmu pengetauan).
Perkumpulan ini berdiri sejak zaman Oost Indische Compagnie, tapi pada saat itu belum begitu kuat. Baru setelah berada di bawah kekuasaan Pemerintah Inggris (1811-1815), perkumpulan ini bangkit. Hindia Belanda, terutama Jawa, harus berterima kasih kepada Sir Stamford Raffles yang memberikan semangat untuk kemajuan perkumpulan ini. Sekarang perkumpulan ini menjadi salah satu perkumpulan ilmiah paling terkenal di dunia.
Ruangan besar dalam gedung itu diisi oleh koleksi lengkap masa lalu dan benda-benda seni dari seluruh bagian Nusantara. Di antaranya berbagai jenis senjata, alat pelindung, peralatan pertukangan, pakaian, perhiasan, anyaman, tenunan kain, alat-alat musik, model rumah, dan perahu. Semua itu memberikan gambaran yang baik untuk mengenal keterampilan dan bakat seni penduduk Hindia Belanda. (Lily Utami, pemerhati sejarah dan budaya)

Rabu, 03 Agustus 2011

'Kota Misterius' Muncul di Atas Sungai China


Pemandangan menakjubkan muncul di China pada awal bulan ini. Sebuah kota misterius muncul di atas Sungai Xin'an.

Kota misterius itu muncul di langit Cina Timur setelah hujan deras. Saat itu, kondisi lembab menutupi Sungai Xin'an.

Kota misterius itu terlihat seperti pemandangan kota lainnya. Tampak gedung pencakar langit, beberapa gunung dan sedikit pohon-pohon.

Pemandangan itu terlihat oleh warga di Kota Huanshan. Muncul beragam spekulasi dari mereka, diantaranya menganggap tempat itu merupakan 'pusara' dari 'peradaban yang hilang'.

"Ini benar-benar luar biasa, terlihat seperti sebuah adegan di film, di negeri dongeng," kata seorang warga kepada saluran berita Inggris, ITN sebagaimana dimuat laman foxnews.com.
Namun, semua itu ternyata tak nyata alias fatamorgana. Para ilmuwan telah membatalkan teori 'pusara' dan 'peradaban yang hilang'.

Para ahli percaya pemandangan itu mungkin hanya sebuah fatamorgana yang disebabkan ketika kelembaban di udara yang menjadi lebih hangat dari suhu air di bawahnya.

Ketika sinar matahari melewati udara dingin ke udara hangat, cahaya itu dibiaskan atau belokan. Sehingga menciptakan sebuah bayangan di udara yang terlihat mirip dengan sebuah bayangan di air.

Refleksi itu merupakan pemandangan umum bagi banyak wisatawan yang berkunjung di daerah basah. (umi)

Buku Bola Tertua Laku 1,4 Juta Dollar AS


 Buku peraturan sepak bola tertua dari kurun 1850-an terjual lebih dari 1 juta dollar AS dalam lelang di Sotheby.
Hal ini diumumkan oleh pemilik buku tersebut, Sheffield FC, di situs mereka, Kamis. Klub yang berdiri pada 1857 ini dan dianggap sebagai klub sepka bola tertua di dunia saat ini bermain di Liga Utara (Northern League), empat tingkat di bawah liga profesional.
Sheffield terpaksa menjual aset berharga mereka ini kartena butuh dana segar untuk membiaya beberapa proyek, termasuk membangun stadion baru.
Buku ini berisi hukum sepak bola dan ditulis lima tahun sebelum asosiasi sepak bola Inggris (FA) terbentuk pada 1863. Beberapa peraturan sepak bola pada masa itu masih berlaku sampai sekarang, termasuk tendangan bebas tidak langsung.
sumber:VIVAnews

Senin, 01 Agustus 2011

Kampung Megalitik Ditemukan di Pagaralam

Situs megalitik di Pagaralam diusulkan menjadi daerah cagar budaya.
Warga Dusun Tegurwangi, Kelurahan Pagarwangi, Kecamatan Dempo Utara, Kota Pagaralam, Sumatera Selatan, menemukan kampung megalitik Batu Balai di Bukit Kayu Manis, pada lahan puluhan hektar.
Pada kompleks megalit Batu Balai ini terdapat puluhan situs, seperti batu tempat peristirahatan, kursi lengkap dengan meja, singgasana, dinding batu berelief, dan beberapa situs lainnya.
Berbagai peninggalan bersejarah ini terdapat di atas lahan puluhan hektare yang berada di tengah hutan bukit Kayu Manis berjarak sekitar 500 meter dari perkampungan penduduk setempat.
"Selama ini kami selaku pemilik lahan tidak ingin mengungkap kepada umum jika di sekitar bukit Kayu Manis terdapat cukup banyak peninggalan bersejarah, termasuk adanya peralatan rumah tangga mirip dengan emas, tapi masih berbentuk batu," kata
warga setempat, Hernando.
Ia mengatakan, bebatuan yang memiliki tulisan cukup banyak ditemukan di daerah bukit tersebut. Namun karena lahan ini dimiliki warga setempat sehingga tidak ada yang berani mendatanginya.
"Sebetulnya bukan hanya ada sejumlah peninggalan sejarah saja di daerah Bukit Kayu Manis ini, tapi juga ada beberapa barang berharga yang diduga masih terpendam, seperti emas," tambahnya.
Menurut Hernando, megalit yang sudah ditemukan berupa arca, dolmen, kursi batu,
singgasana, dan beberapa lainnya. Namun berbagai peninggalan sejarah ini sebagian besar masih terkubur di dalam tanah di bukit Kayu Manis, dan lahannya sebagian besar milik warga setempat.
Kepala Dinas Pariwisata dan Seni Budaya Kota Pagaralam, Safrudin, mengatakan penemuan lokasi megalit yang baru ini akan menambah perbendaharaan peninggalan bersejarah di Pagaralam, dan akan segera dilakukan pendataan.
"Kita akan segera melakukan peninjauan langsung ke lokasi penemuan megalit tersebut, dan nantinya akan dilakukan kerja sama dengan BP3 Jambi dan Balai Arkeologi Palembang untuk melakukan penelitian," ujarnya.
sumber:Yahoo

Ini 10 Masjid Tertua di Indonesia

Ini 10 Masjid Tertua di Indonesia

Islam sebagai sebuah pemerintahan hadir di Indonesia sekitar abad ke-12, namun sebenarnya Islam sudah masuk ke Indonesia pada abad 7 Masehi. Saat itu sudah ada jalur pelayaran yang ramai dan bersifat internasional melalui Selat Malaka yang menghubungkan Dinasti Tang di Cina, Sriwijaya di Asia Tenggara dan Bani umayyah di Asia Barat sejak abad 7.
Tempat peribadatan umat Islam, Masid, diketahui yang tertua dibangun pada tahun 1200-an. Berikut ini adalah 10 masjid tertua di indonesia;
1. Masjid saka tunggal (1288)
Masjid Saka tunggal terletak di Desa Cikakak Kecamatan Wangon dibangun pada tahun 1288 sebagaimana terukir di Guru Saka (Pilar Utama) masjid. Tapi dalam membuat masjid ini lebih jelas ditulis dalam buku-buku kiri oleh para pendiri masjid ini adalah Kyai Mustolih. Tapi buku-buku ini telah hilang bertahun-tahun yang lalu. Setiap tanggal 27 rajab diadakan ziarah di masjid dan membersihkan makam Kyai Jaro Mustolih. Masjid ini terletak ± 30 km dari kota purwokerto. Disebut saka tunggal untuk membangun tiang yang digunakan untuk membentuk hanya satu tiang (tunggal). Yang menurut bp. Sopani salah satu pengurus masjid adalah bahwa pilar tunggal melambangkan bahwa ALLAH adalah hanya satu ALLAH swt. Di beberapa tempat terdapat hutan pinus dan hutan lainnya dihuni oleh ratusan monyet jinak dan ramah, seperti di Sangeh Bali.
2. Masjid Wapauwe (1414)
Masjid ini masih terawat dengan baik. Kebanyakan bangunan aslinya juga disimpan beberapa benda warisan seperti drum, tulisan tangan s Alquran ', sifat skala batu yang beratnya 2,5 kg, dan logam hiasan dan membaca huruf arab di dinding. Masjid juga masih berfungsi sebagai tempat doa sekitar penduduk.
Jika drum atau beduk dipukuli, maka suaranya akan terdengar sampai seluruh desa, mengundang orang untuk datang ke masjid untuk jemaat.
Kitab suci Alquran tulisan tangan di masjid ini pernah dipamerkan di Festival Istiqlal di Jakarta. Beberapa tambahan baru adalah tempat wudlu, karpet, kipas dan listrik untuk pencahayaan.
3. Masjid ampel (1421)
Masjid Ampel adalah sebuah masjid kuno yang berada di bagian utara Kota Surabaya, Jawa Timur. Masjid ini didirikan oleh Sunan Ampel, dan didekatnya terdapat kompleks makam Sunan Ampel.
Saat ini Masjid Ampel merupakan salah satu daerah tujuan wisata religi di surabaya. Masjid ini dikelilingi oleh bangunan berarsitektur tiongkok dan arab.
Disamping kiri halaman Masjid Ampel, terdapat sebuah sumur yang diyakini merupakan sumur yang bertuah, biasanya digunakan oleh mereka yang meyakininnya untuk penguat janji atau sumpah.
4. Masjid agung demak (1474)
Masjid Agung Demak adalah salah satu mesjid yang tertua di Indonesia. Masjid ini terletak di desa kauman, demak, jawa tengah. Masjid ini dipercayai pernah merupakan tempat berkumpulnya para ulama (wali) penyebar agama Islam, disebut juga Walisongo, untuk membahas penyebaran agama Islam di tanah Jawa khususnya dan INdonesia pada umumnya. Pendiri masjid ini diperkirakan adalah Raden Patah, yaitu raja pertama dari Kesultanan Demak, pada sekitar abad ke-15 masehi.
Masjid ini mempunyai bangunan-bangunan induk dan serambi. Bangunan induk memiliki empat tiang utama yang disebut Saka Guru. Tiang ini konon berasal dari serpihan-serpihan kayu, sehingga dinamai 'saka tatal' bangunan serambi merupakan bangunan terbuka. Atapnya berbentuk limas yang ditopang delapan tiang yang disebut saka majapahit.
Di dalam lokasi kompleks Masjid Agung Demak, terdapat beberapa makam raja-raja Kesultanan Demak dan para abdinya. Di sana juga terdapat sebuah museum, yang berisi berbagai hal mengenai riwayat berdirinya Masjid Agung Demak.
5. Masjid sultan suriansyah (1526)
Masjid Sultan Suriansyah adalah sebuah masjid bersejarah yang merupakan masjid tertua di Kalimantan Selatan. Masjid ini dibangun pada masa pemerintahan Tuan Guru (1526-1550), Raja Banjar yang pertama masuk islam.
Masjid ini terletak di utara Kecamatan Kesehatan, Banjarmasin Utara, Banjarmasin, daerah yang dikenal sebagai Banjar Lama merupakan ibukota Kesultanan Banjar untuk pertama kalinya.
Arsitektur tahap konstruksi dan atap tumpang tindih, merupakan masjid bergaya tradisional banjar. Gaya masjid tradisional di banjar mihrabnya memiliki atap sendiri terpisah dengan bangunan utama. Masjid ini dibangun di tepi sungai di Kecamatan Kesehatan.
6. Masijd Menara Kudus (1549)
Mesjid Menara Kudus (disebut juga sebagai Mesjid Al Aqsa dan Mesjid Al Manar) adalah mesjid yang dibangun oleh Sunan Kudus pada tahun 1549 masehi atau tahun 956 hijriah dengan menggunakan batu dari Baitul Maqdis dari Palestina sebagai batu pertama dan terletak di Desa Kauman, Kecamatan Kota, Kabupaten Kudus, Jawa Tengah. Mesjid ini berbentuk unik, karena memiliki menara yang serupa bangunan candi. Masjid ini adalah perpaduan antara budaya Islam dengan budaya Hindu.
7. Masjid Agung Banten (1552-1570)
Masjid Agung Banten termasuk masjid tua yang penuh nilai sejarah. Setiap harinya masjid ini ramai dikunjungi para peziarah yang datang tak hanya dari Banten dan Jawa Barat, tapi juga dari berbagai daerah di pulau Jawa.
Masjid Agung Banten terletak di kompleks bangunan masjid di Desa Banten Lama, sekitar 10 km sebelah utara Kota Serang. Masjid ini dibangun pertama kali oleh Sultan Maulana Hasanuddin (1552-1570), sultan pertama Kasultanan Demak. Ia adalah putra pertama Sunan Gunung Jati.
Salah satu kekhasan yang tampak dari masjid ini adalah adalah atap bangunan utama yang bertumpuk lima, mirip pagoda china. Ini adalah karya arsitektur china yang bernama Tjek Nan Tjut. Dua buah serambi yang dibangun kemudian menjadi pelengkap di sisi utara dan selatan bangunan utama.
Di masjid ini juga terdapat komplek makam sultan-sultan banten serta keluarganya. Yaitu makam Sultan Maulana Hasanuddin dan istrinya, Sultan Ageng Tirtayasa, dan Sultan Abu Nasir Abdul Qohhar. Sementara di sisi utara serambi selatan terdapat makam Sultan Maulana Muhammad dan Sultan Zainul Abidin, dan lainnya.
Masjid Agung Banten juga memiliki paviliun tambahan yang terletak di sisi selatan bangunan inti masjid agung. Paviliun dua lantai ini dinamakan Tiyamah. Berbentuk persegi panjang dengan gaya arsitektur belanda kuno. Bangunan ini dirancang oleh seorang arsitek belanda bernama Hendick Lucasz Cardeel. Biasanya, acara-acara seperti rapat, dan kajian Islami dilakukan di sini.
Menara yang menjadi ciri khas sebuah masjid juga dimiliki Masjid Agung Banten. Terletak di sebelah timur masjid, menara ini terbuat dari batu bata dengan ketinggian kurang lebih 24 meter, diameter bagian bawahnya kurang lebih 10 meter. Untuk mencapai ujung menara, ada 83 buah anak tangga yang harus ditapaki dan melewati lorong yang hanya dapat dilewati oleh satu orang. Dari atas menara ini, pengunjung dapat melihat pemandangan di sekitar masjid dan perairan lepas pantai, karena jarak antara menara dengan laut hanya sekitar 1,5 km.
Dahulu, selain digunakan sebagai tempang mengumandangkan azan, menara yang juga dibuat oleh Hendick Lucasz Cardeel ini digunakan sebagai tempat menyimpan senjata.
8. Masjid Mantingan (1559)
Masjid Mantingan adalah masjid kuno di Desa Mantingan, Kecamatan Tahunan, Jepara, Jawa Tengah. Masjid ini dilaporkan didirikan di Kesultanan Demak pada tahun 1559. Didirikan oleh ubin lantai tinggi ditutup dengan cina buatan sendiri, dan juga kereta api-undakannya. Semua didatangkan dari Makao. Bubungan atap bangunan gaya termasuk china. Dinding luar dan dalam dihiasi dengan piring tembikar bergambar biru, sedang dinding sebelah tempat imam dan pendeta itu dihiasi dengan relief persegi bergambar margasatwa, dan penari penari diukir di batu kuning tua. Pengawasan pekerjaan konstruksi masjid ini tak lain adalah Babah Liem Mo Han. Di dalam kompleks masjid terdapat makam Sultan Hadlirin, suami dari Kanjeng Ratu Kalinyamat dan adik ipar Sultan Trenggono, penguasa terakhir Demak. Selain itu ada juga makam Waliullah Mbah Abdul Jalil, yang disebut sebagai nama lain Syekh Siti Jenar.
9. Masjid Al-Hilal Katanga (1603)
Masjid ini dibangun pada tahun 1603 masehi pada masa pemerintahan Taja Gowa-24, Aku Manga'ragi Daeng-Manrabbiakaraeng Lakiung, Sultan Alauddin. Kemudian pada tahun 1605 m, masjid ini benar-benar dirubah untuk diberi nama Masjid Katangka. Masjid berukuran 14,1 x struktur 14,4 meter dan sebuah bangunan tambahan 4,1 x 14,4 meter. Tinggi bangunan 11,9 meter dan 90 meter dinding tebel, bahan baku dari batu bata dengan atap ubin dan lantai porselen. Lokasi di Katangka, Gowa.
10. Masjid Tua Palopo (1604)
Madjid Tua Palopo, didirikan oleh Raja Luwu bernama Sultan Abdullah Matinroe pada tahun 1604 m, masjid yang memiliki luas 15 m2 ini diberi nama Orang Tua, karena usia yang sudah tua. Sedangkan nama Palopo diambil dari kata dalam bahasa bugis dan luwu memiliki dua arti, yaitu: Pertama, penganan yang terbuat dari campuran beras ketan dan air gula. Kedua, memasukkan pasak dalam lubang tiang bangunan. Kedua makna memiliki hubungan dengan proses pembangunan Masjid tua Palopo ini.

Sabtu, 30 Juli 2011

Misteri Kura-kura Selamat dari 'Kiamat'

 
Dinosaurus mungkin pernah menjadi penguasa dunia dengan badan besar, cakar tajam, dan giginya yang mengerikan. Namun, saat mereka akhirnya punah dari muka Bumi, kura-kura Boremys yang sederhana justru selamat dari serangan meteorit yang menghantam Bumi 65 juta tahun lalu.

Buktinya adalah sebuah fosil yang ditemukan oleh palaeontolog Amerika Serikat di formasi batuan di North Dakota dan Montana menjadi bukti. Fosil tersebut diperkirakan milik mahluk yang hidup di periode pasca serangan meteor: Kura-kura air.

Apa rahasianya Kura-kura bisa bertahan hidup? Menurut pada ilmuwan, itu bukan karena cangkangnya yang keras. Tapi, fakta bahwa mereka tidak serakah.

Metabolisme mereka yang lamban menjadi kunci bertahan hidup di periode pasca serangan meteor. Di mana hanya sedikit makanan yang tersisa. Mereka juga terlindungi oleh air, yang jadi satu dari dua habitat mereka.

"Kura-kura adalah hewan yang tangguh, mereka mempu bertahan di masa-masa sulit," kata Tyler Lyson dari Yale University kepada LiveScience. Selain itu, "hewan yang hidup di air terlindungi dari apapun yang bisa membunuh tanaman darat dan Dinosaurus."

Kebiasaan kura-kura juga jadi kunci penting yang menyelamatkan. Saat kondisi dingin, kura-kura akan berhibernasi. Namun, ketika sangat panas atau kering, kura-kura air akan mengubur dirinya di lumpur -- menunggu kondisi normal. Ini yang mungkin mereka lakukan saat periode kemusnahan Dinosaurus.
Meteor penyebab mass extinction, fenomena musnahnya dinosaurus.

Untuk diketahui, meteorit yang memusnahkan Dinosaurus memiliki lebar antara enam sampai sembilan mil, yang menghantam Semenanjung Yukatan, di selatan Meksiko. Tubrukan itu melepaskan sekitar 100 juta megaton energi. Masa itulah yang kemudian dikenal sebagai K-T Boundary -- periode kemusnahan massal mahluk hidup.

Para ilmuwan menemukan binatang-binatang tang selamat dari 'kiamat' itu dengan cara mencarinya di antara bebatuan yang memiliki keunikan geologis.

Kala itu, hampir seluruh hewan darat tersapu bersih, musnah. Termasuk jenis penyu. Namun, Kura-kura Boremys -- khususnya famili Baenid luput. "Hewan kecil yang memiliki metabolisme lambat dan hidup di air, mereka bertahan dengan baik di K-T Boundary," tambah Lyson. "Di dalam air, sebelum dan setelah tubrukan meteor, semua berlangsung seperti biasa."

Namun, Kura-kura Boremys pun akhirnya menyerah pada alam dan waktu. Mereka akhirnya punah sekitar 40 juta tahun lalu -- setelah sempat hidup sekitar 85 juta tahun di Bumi.

Para ilmuwan menduga, hewan tersebut punah karena dimangsa predator. Salah satu alasannya, mereka tak bisa menyembunyikan kepalanya di cangkang -- kemampuan yang dimiliki Kura-kura modern. (Daily Mail, umi)

Ilmuwan: Monster Laut Benar-benar Ada




    Monster laut seperti yang dideskripsikan dalam kisah-kisah pelaut kuno, bukan berarti sepenuhnya mitos. Sejumlah ilmuwan mengklaim, mahluk itu nyata. Meski, penampakan mereka tak seperti yang digambarkan Film 'Jurassic Park', tak mirip mahluk prasejarah.

    Para ilmuwan mendiskusikan kemungkinan adanya mahluk raksasa di dalam laut yang belum ditemui dalam ajang Zoological Society of London (ZSL). Salah satu pembicara adalah  ilmuwan palaeontolog, Dr Darren Naish. "Sejumlah penampakan 'monster laut' yang dilaporkan tidak semuanya bisa dikatakan sebagai salah tafsir, ketidaktahuan, atau hoax alias kabar bohong," kata dia seperti dimuat Daily Mail, Selasa 12 Juli 2011.
    Monster laut

    Setidaknya, beberapa di antaranya -- khususnya yang ditemui orang-orang yang mengerti benar tentang alam -- adalah deskripsi hewan nyata yang belum diketahui eksistensinya. Apalagi, "sejumlah besar hewan laut besar terus ditemukan, seperti ikan paus dan hiu jenis baru. Jadi, ide bahwa spesies 'monster' itu hanya menunggu waktu, setidaknya masuk akal," kata Naish.

    Meski demikian, ia menolak ide bahwa penampakan 'monster laut' mirip mahluk-mahluk prasejarah. Msialnya, punya leher panjang seperti Dinosaurus.

    Sementara, sesi bertajuk "Kriptozoologi: Sains atau Pseudosains" diselenggarakan Dr Charles Paxton dari University of St Andrews.

    Ia berpendapat, salah untuk mengasumsikan bahwa semua hewan besar di dalam laut telah ditemukan saat ini. "Jika kriterianya hanya besar, bukan ini yang dimaksud," kata dia. Misalnya, pada tahun 1995, ditemukan ikan pari yang hidup di dasar laut, panjangnya 3,42 meter.
    "Ada perbedaan antara binatang yang hidup di dasar laut dan mereka yang muncul untuk menghirup udara, tapi kita telah menemukan sejumlah spesies baru paus," tambah dia.

    Senada dengan Naish, ia setuju bahwa tipis kemungkinan kita akan menemukan hewan plesiosaurus. "Jika ada hewan prasejarah yang hidup hari ini akan menyiratkan bahwa ada sesuatu yang sangat salah dengan pemahaman kita tentang catatan fosil," katanya.

    Untuk diketahui, delapan spesies laut berukuran besar telah ditemukan dalam 20 tahun terakhir. Pada tahun 1905, ahli zoologi Meade-Waldo Edmond dan Michael Nicoll menemukan 'ular laut' di lepas pantai Brasil.

    Sementara, kriptozoologi memiliki arti harafiah, 'studi tentang binatang yang tersembunyi'. Ini mengacu pada usaha menemukan makhluk mitos yang keberadaannya belum terbukti, seperti Loch Ness raksasa, Bigfoot dan Yeti.

    Selasa, 26 Juli 2011

    Pulau Es Raksasa Hanyut di Laut Lepas

    Pulau itu kemungkinan tidak akan mencapai daratan karena bagian dasar bongkahan es itu akan tersangkut di dasar laut sebelum ia tiba di pantai. Namun ia mengancam kilang minyak dan lalu-lintas kapal. (AP Photo)
     
    Sebuah ‘pulau’ es raksasa telah hanyut sekitar 10 kilometer dari pantai Labrador, Kanada. Informasi ini dikonfirmasikan oleh gambar-gambar satelit milik NASA.

    Sebagai informasi, pada Agustus 2010 lalu, gletser Petermann di pesisir barat laut Greenland telah melepaskan sebuah bongkahan es yang ukurannya sama besar dengan Manhattan, kawasan berpopulasi terpadat di New York, Amerika Serikat.

    Hampir setahun kemudian, yakni 25 Juli 2011, pulau es yang diberi nama Petermann Ice Island-A (PII-A), masih tampak jelas oleh Moderate Resolution Imaging Spectroradiometer (MODIS) yang ada di satelit Terra, milik NASA.

    Pulau es raksasa itu terus hanyut ke arah selatan, mengikuti pesisir pantai. Saat ini, pulau itu diperkirakan berada di 10 kilometer timur Spear Harbour, Newfoundland, Kanada.

    Dikutip dari Universe Today, 27 Juli 2011, pulau itu kemungkinan tidak akan mencapai daratan karena bagian dasar bongkahan es itu akan tersangkut di dasar laut jauh sebelum  tiba di pantai. Canadian Ice Service (CIS) juga melaporkan bahwa ukuran pulau PII-A terus menyusut akibat banyaknya bongkahan kecil yang memisahkan diri ataupun mencair.

    Meski tidak akan menabrak daratan, namun pulau es besar itu menghadirkan ancaman bagi kilang minyak lepas pantai dan jalur lalu-lintas kapal.

    Dari pantauan terakhir NASA, pulau itu kini ukurannya tinggal 52 kilometer persegi. Namun ia tengah berada di selat Belle Isle, yang merupakan jalan pintas bagi kapal dari dan menuju kawasan Amerika utara dan Eropa atau kapal yang rutenya ada di timur laut dan barat laut Amerika Utara. (umi)

    Jumat, 22 Juli 2011

    Kutub Utara Meleleh 2011?


    Desika Pemita
      
     London: Pemanasan global yang terjadi saat ini diperkirakan menyebabkan Kutub Utara meleleh lebih cepat. Sumber Dailyamail menyebutkan, Jumat (22/7), para peneliti memperkirakan es di Kutub Utara mencair pada 2011. Prediksi berdasarkan penelitian yang menyebutkan, pemanasan membuat 46 ribu meter persegi es mencair setap hari.

    Jika pencairan es terus terjadi dalam jumlah yang sama sepanjang Juli, akan menjadi tingkat tercepat es di kutub utara meleleh sejak 1979 lampau. Bahkan, sebuah gambar yang diambil dari satelit dari atas Greenland menunjukkan mencairnya es di wilayah tersebut.

    "Pencairan es di Kutub Utara relatif cepat. Tentu secara keseluruhan, kami pikir es akan menipis secara keseluruhan pada musim ini dibandingkan tahun 2007," kata Julienne Stroeve, peneliti dari Lembaga Pengawas Es dan Salju Nasional (NSIDC). Jumlah es saat ini 865 ribu mil persegi, di bawah rata-rata tahun 1979 hingga 2000. Tingkat tercepat sebelumnya es mencair pada 2007.

    Para peneliti mengatakan, mencair dan membekunya es laut Kutub Utara terjadi dengan intensitas bervariasi setiap tahun. Tetapi di musim semi karena cuaca hangat tiba es mulai mencair. Setiap tahun jumlah es yang kembali membeku di musim gugur menurun. Mereka juga menemukan, tahun ini es mulai mencair antara dua minggu dan dua bulan lebih awal dari biasa. Hal ini menandakan jumlah keseluruhan es yang mencair lebih besar sepanjang tahun.

    Pengukuran es berlangsung di Laut Chukchi, dekat Alaska, Barents, Laut Kara dan Laptev, dekat Finlandia dan Rusia. Hal ini diyakini bahwa es yang mencair disebabkan angin hangat yang menyapu belahan bumi utara. Langit cerah di atas Kutub Utara juga telah memungkinkan sinar matahari untuk membakar lembaran es yang biasanya dilindungi awan tebal.(AIS)

    Rabu, 13 Juli 2011

    Karya Michaelangelo Ditemukan Lagi

     

     
     Sebuah adikarya dari pelukis zaman Renaissance, Michaelangelo, telah ditemukan kembali di Champion Hall, sebuah bangunan di Oxford University, Inggris, demikian klaim seorang sarjana Italia, seperti dikutip BBC, Lukisan yang menggambarkan peristiwa "Penyaliban Yesus" itu sebelumnya diyakini sebagai karya dari Marcello Venusti, seorang pelukis Italia dari abad ke-14 yang terkenal karena berhasil menjiplak karya termasyhur dari Michaelangelo, "Last Judgement".

    Namun, Antonio Forcellino, seorang sarjana dari Italia, mengungkapkan, hasil penyelidikannya yang menggunakan sinar inframerah menunjukkan siapa pencipta sebenarnya dari adikarya itu. Alhasil, kini lukisan itu telah dipindahkan ke Ashmolean Museum demi alasan keamanan.
    "Itu adalah sebuah karya yang indah, tetapi terlalu berharga untuk terus dipajang di dinding kami," kata pengelola Champion Hall, Romo Brendan Callaghan SJ.
    Menurut dia, lukisan yang berjudul "Penyaliban dengan Sang Madonna, Yohanes, dan Dua Malaikat yang Berduka" (Crucifixion With The Madonna, St John And Two Mourning Angels) itu sebaiknya memang tidak digantung di dinding bangunan mereka itu.
    "Sederhana saja, membiarkannya tergantung di dinding kami bukan gagasan yang bagus," ujarnya menambahkan.
    Dalam bukunya, Forcelino dengan yakin menyatakan bahwa lukisan semegah itu hanya bisa dihasilkan oleh Michaelangelo.
    "Tidak seorang pun yang bisa melukis adikarya seperti itu kecuali Michaelangelo," tulis Forcelino dalam bukunya yang berjudul The Lost Michaelangelos.
    Lukisan itu sendiri dibeli oleh para pengelola Champion Hall dalam sebuah lelang di Sotheby pada era 1930-an.

    Jumat, 08 Juli 2011

    Misteri Dua Arca Batu Indian Maya


     Arkeolog Meksiko menemukan dua arca batu berusia 1.300 tahun yang diyakini sebagai patung penduduk Maya. Penemuan ini diharapkan mampu memberi pencerahan tentang aliansi serta kota-kota Maya selama berabad-abad.

    Kantor berita Associated Press melansir, pada Jumat 8 Juli 2011, dua artefak kuno ini menggambarkan dua orang yang duduk bersila dengan tangan terikat di belakang. Kedua patung ini ditemukan Mei lalu di situs arkeologi Tonina di selatan daerah Chiapas, bersama dengan dua papan nilai permainan bola batu.

    Satu patung yang masih utuh memiliki strip kain khas tawanan di kedua telinganya, bukannya pelindung telinga yang biasa dipakai para prajurit. Patung lainnya sudah kehilangan bagian kepala.

    Beberapa ahli artefak memiliki teori yang berbeda tentang latar waktu, asal tempat, serta tujuan pembuatan dua patung seukuran manusia ini.

    Arkeolog Juan Yadeun mengatakan, "Penemuan patung yang menggambarkan dua tahanan Copan ini adalah bukti fisik bahwa kota ini bersekutu dengan Palenque dalam rangka melawan Tonina." Ia merujuk pada pertempuran Copan-Tonina yang terjadi pada tahun 688 hingga 714 di lokasi yang kini menjadi perbatasan Meksiko-Guatemala.

    Teori itu dibantah David Stuart, seorang spesialis epigrafi Maya dari University of Austin, Texas. Ia menyatakan, kedua patung ini mungkin didedikasikan  untuk memperingati pembangunan sebuah lapangan bola di Tonina pada 27 Juni tahun 696.

    "Tentu saja patung ini tak ada kaitannya dengan Copan. Menurut saya, patung ini lebih terlihat seperti penduduk lokal wilayah Chiapas daripada prajurit. Mungkin mereka adalah penduduk setempat yang bersiap untuk dikorbankan," kata Stuart.

    Kamis, 30 Juni 2011

    Mbah Senun 40 Tahun Jadi Abdi Sunan Ampel


    Sosoknya yang renta seolah menimbun berbagai asam manis cerita kehidupan. Sebagai abdi Sunan Ampel, Mbah Senun tak perlu lagi diragukan kesetiannya. Selama 70 tahun ia hidup, 40 tahunnya telah ia serahkan menjadi juru sapu Masjid Sunan Ampel.

    Bahkan, nenek tua yang mengaku lahir pada zaman penjajahan Jepang ini tak lagi bergairah mengetahui hal-hal duniawi lainnya. Mbah Senun mengaku tidak tahu apa-apa selain hal-hal yang berhubungan dengan kebersihan kawasan wisata religi Sunan Ampel di Jalan Nyamplungan itu.

    "Saya nggak pernah keluar dari kawasan Sunan Ampel, karena saya juga nggak tahu jalan kemana-mana. Ya, keliling di sekitar masjid saja

    Sebelum subuh Mbah Senun mampu membersihkan halaman depan Masjid Sunan Ampel. Ia bertugas menyapu dan mengingatkan para wisatawan yang datang untuk berziarah ke makam penyebar Islam terbesar di Jawa. Selain itu, ia juga tak akan sungkan untuk menegur wisatawan yang berbuat tidak sesuai aturan di sekitar kawasan.

    Meski tak pernah mengenyam pendidikan, Mbah Senun tergolong orang yang padat karya. Ia tak pernah sekalipun meninggalkan tugasnya bahkan saat kawasan wisata tersebut ramai dikunjungi peziarah. Bukan nilai uang yang ia cari, melainkan kebanggaannya mengabdi kepada Sunan Ampel.

    "Saya digaji Rp 20 ribu per hari, tapi saya senang bisa bekerja di sini. Lha wong saya baca saja tidak bisa, apalagi mengaji. Saya cuma bisa kerja untuk Sunan," tutur wanita asal Ponorogo ini di tengah kewajibannya menyapu halaman masjid.

    Mbah Senun tak lagi ingat tahun berapa ia diminta menjadi abdi Sunan Ampel. Yang masih ia ingat hingga kini adalah rasa bangganya saat 'dijumput' salah satu petugas masjid untuk bekerja atau mengabdi kepada sosok penyebar Islam terbesar di Jawa ini.

    Senin, 27 Juni 2011

    Batavia: Menata Petualangan

    SEKITAR awal 1980-an, dalam mata kuliah antropologi perkotaan (di Jurusan Antropologi, FISIP UI) yang ketika itu diberikan Dr Parsudi Suparlan, tiba-tiba bermunculan mahasiswa dari Fakultas Teknik UI. Rupanya mereka adalah mahasiswa Jurusan Arsitektur yang berminat terhadap masalah perkotaan dan penataannya.

    Pada waktu itu pemekaran kota sedang marak (dan masih juga sampai sekarang!). Ahli antropologi, sosiologi perkotaan, dan planologi sibuk menjadi konsultan bagi pemerintah kota di berbagai daerah.

    Orang awam barangkali menduga bahwa isu tata kota atau planologi perkotaan merupakan isu dan ilmu baru. Akan tetapi, sebetulnya hal ini merupakan masalah yang inheren dalam setiap masyarakat dan budaya.

    Ada kearifan budaya yang diperlukan untuk menentukan di mana, bagaimana, kapan, dan untuk apa sebuah permukiman didirikan sehingga cocok dengan lingkungan dan budaya masyarakatnya. Penataan ruang hidup di dalam permukiman itu diatur pula sesuai dengan kearifan budaya masyarakat itu.

    Orang-orang Belanda yang mendirikan Batavia di awal 1600 tidak menggunakan kearifan lokal ketika mulai membangun kota ini. Mereka memang tidak mengenal dan tidak peduli kepada masyarakat setempat ataupun budaya mereka. Mereka membangun sebuah kota di daerah tropis dengan gagasan perkotaan dan penataan ruang hidup yang ada di Eropa.

    Terlepas dari baik-buruk dan berhasil-tidaknya pemikiran mereka, bagi kita yang tinggal di Jakarta masa kini, barangkali menarik untuk melihat sarana dan prasarana apa saja yang dianggap penting ada dalam sebuah kota pada waktu itu.

    Nicolaus de Graaff dalam bukunya Reisen van Nicolaus de Graaff: gedaan naar alle gewesten des Werelds (beginnende 1639 tot 1687 incluis). ('s-Gravenhage: Martinus Nijhoff, 1930) dan Ir HA Breuning dalam bukunya Het voormalige Batavia: Een Hollandse Stedestichting in de Tropen Anno 1619 (Utrecht: GJB. 1981) memberikan banyak informasi mengenai pembagian ruang hidup dan penataan kota Batavia ketika kota itu baru saja berdiri.

    Nicolaus de Graaff, yang beberapa kali mampir ke Batavia ketika kapal VOC tempatnya bekerja sandar di Pelabuhan Sunda Kelapa, melaporkan, di dalam dinding kota Batavia terdapat gereja yang disebut De Kruiskerk (sekarang menjadi Museum Seni Rupa Keramik). Gereja besar ini terbuat dari batu karang berwarna putih dan dibangun pada 1640.

    Di bagian tengah atapnya, di bawah figur ayam penunjuk arah angin, terdapat menara dengan jendela-jendela lengkung terbuat dari besi. Di menara itu terdapat jam yang hanya dibunyikan loncengnya bila akan ada kebaktian. Bagian dalam gedung ini luas dengan lampu-lampu dari perunggu yang dibawa dari negeri Belanda. Kursi-kursinya terbuat dari kayu eboni dan tampak cantik dengan bahan katun yang menghiasinya.

    Balai Kota yang disebut juga Raadhuis atau `t Stadhuis dibangun di tengah-tengah kota di depan alun-alun yang besar. Batu pertama bangunan batu bertingkat dua itu diletakkan pada 1652. Pintu utamanya, persis di tengah-tengah bagian depannya, mengikuti contoh dari Orde Korintia. Di bagian atas terdapat serambi yang dapat dicapai dari oppersaal atau balairung atas.

    Di dalam Balai Kota itu terdapat ruangan-ruangan mewah tempat kerja petinggi VOC yang disebut de Raad van Indie, anggota pemerintahan kota (schepenen), para pemimpin rumah yatim-piatu (weesmeesters), pejabat dan pemimpin-pemimpin lain, serta para pengawas pengadilan militer dan pengadilan masyarakat.

    Di dalam Balai Kota itu juga terdapat binnenplaats atau alun-alun dalam. Tempat ini tertutup oleh dinding batu yang tinggi dan kokoh. Berbagai ruangan yang terdapat di binnenplaats itu gelap, pengap dan tidak menyenangkan, karena memang ruangan-ruangan itu berfungsi sebagai tempat penahanan para penjahat dan pembuat onar kota Batavia. Tempat tinggal para pegawai pengadilan juga terdapat di bagian ini.

     
    Design by Wordpress Theme | Bloggerized by Free Blogger Templates | coupon codes