"Posisi komodo saat ini selalu fluktuatif. Urusan kalah menang bukan soal, tetapi nama NTT sudah terkenal di seluruh dunia dan setiap orang tentu berkeinginan untuk mengunjungi komodo," kata Lebu Raya, di Kupang, Senin.
Dia mengemukakan hal itu ketika berbicara mengenai permasalahan pembangunan NTT pada Temu nasional Aktualisasi Spiritualitas Profesional dan Usahawan Katolik (TAS-PUKAT). Acara yang dihadiri puluhan usahawan nasional itu akan berlangsung hingga 9 Agustus.
Gubernur Frans Lebu Raya mengatakan, beberapa waktu lalu, komodo sempat mendapat ancaman untuk dicoret dari peserta peserta finalis tujuh keajaiban dunia (News Seven Wonder).
Menurut Lebu Raya, pemerintah dan rakyat Nusa Tenggara Timur justeru senang jika komodo dicoret dari peserta oleh lembaga penyelenggara karena justeru akan menimbulkan berbagai pertanyaan oleh masyarakat dunia.
"Saya katakan bahwa, kalau komodo di coret lebih baik. Kalau coret orang-orang akan bertanya-tanya dan itu membuat mereka tentu akan lebih banyak datang ke NTT untuk melihat dari dekat biawak raksasa itu," katanya.
Gubernur mengatakan, satu-satunya binatang buas yang bisa memangsa anaknya di dunia hanya komodo dan berada di Taman Nasional Komodo, ujung barat Pulau Flores.
Artinya, siapa pun yang tidak berkesempatan melihat komodo sebelum ajal, maka hidupnya akan sia-sia atau bahkan belum lengkap.
"Jadi datang ke Labuan Bajo di Flores dan lihat sendiri komodo. Hidup akan menjadi lebih lengkap kalau sudah melihat komodo," kata Lebu Raya sambil mengajak peserta temu nasonal TAS-PUKAT untuk berkunjung ke Labuan Bajo.
Gubernur menambahkan, selain komodo, Nusa Tenggara Timur juga memiliki sejumlah potensi pariwisata yang sangat unik dan tidak terdapat di daerah mana pun di dunia ini.
Ada danau tiga warna Kelimutu di Ende, atraksi pasola di Pulau Sumba, Taman Laut Teluk Maumere dan Taman Laut di Pulau Kepa di Kabupaten Alor, yang menurut berbagai penelitian merupakan yang terbaik di dunia, kata Lebu Raya.
Dia mengemukakan hal itu ketika berbicara mengenai permasalahan pembangunan NTT pada Temu nasional Aktualisasi Spiritualitas Profesional dan Usahawan Katolik (TAS-PUKAT). Acara yang dihadiri puluhan usahawan nasional itu akan berlangsung hingga 9 Agustus.
Gubernur Frans Lebu Raya mengatakan, beberapa waktu lalu, komodo sempat mendapat ancaman untuk dicoret dari peserta peserta finalis tujuh keajaiban dunia (News Seven Wonder).
Menurut Lebu Raya, pemerintah dan rakyat Nusa Tenggara Timur justeru senang jika komodo dicoret dari peserta oleh lembaga penyelenggara karena justeru akan menimbulkan berbagai pertanyaan oleh masyarakat dunia.
"Saya katakan bahwa, kalau komodo di coret lebih baik. Kalau coret orang-orang akan bertanya-tanya dan itu membuat mereka tentu akan lebih banyak datang ke NTT untuk melihat dari dekat biawak raksasa itu," katanya.
Gubernur mengatakan, satu-satunya binatang buas yang bisa memangsa anaknya di dunia hanya komodo dan berada di Taman Nasional Komodo, ujung barat Pulau Flores.
Artinya, siapa pun yang tidak berkesempatan melihat komodo sebelum ajal, maka hidupnya akan sia-sia atau bahkan belum lengkap.
"Jadi datang ke Labuan Bajo di Flores dan lihat sendiri komodo. Hidup akan menjadi lebih lengkap kalau sudah melihat komodo," kata Lebu Raya sambil mengajak peserta temu nasonal TAS-PUKAT untuk berkunjung ke Labuan Bajo.
Gubernur menambahkan, selain komodo, Nusa Tenggara Timur juga memiliki sejumlah potensi pariwisata yang sangat unik dan tidak terdapat di daerah mana pun di dunia ini.
Ada danau tiga warna Kelimutu di Ende, atraksi pasola di Pulau Sumba, Taman Laut Teluk Maumere dan Taman Laut di Pulau Kepa di Kabupaten Alor, yang menurut berbagai penelitian merupakan yang terbaik di dunia, kata Lebu Raya.



02.35
itkoreaj jonathan
Posted in:
0 komentar:
Posting Komentar